Daerah Bima merupakan Kabupaten paling
ujung timur di pulau Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada awal
terbentuknya kabupaten Bima adalah wilayah kerjaaan yang dibangun oleh
garis keturunan kesultanan tanah gowa Sulawesi.
Kepala pemerinatahan Dana Mbojo (Bima) dipimpin oleh Sultan Abdul Kahir
I yang dinobatkan sebagai raja Bima pada 1640 Masehi. Pelantikan Raja
Bima pertama dilaksanakan 5 Juli sekaligus dijadikan Hari Ulang Tahun
Bima. Sejak era Orde Baru hingga jabatan Bupati Bima periode 2010 - 2015
Dana Mbojo sudah dijabat 7 (enam) figur pemimpin berbeda.
Sebelumnya adanya perubahan aturan
perundang-undangan yang mengatur sistem pemerintahan pusat, pemerintah
provinsi dan pemerintahan daerah Bupati Bima dijabat tokoh luar putera
daerah Bima. Pada saat ini sistem pemerintahan Indonesia masih bersifat
sentralistik. Pemerintah Pusat masih memiliki kewenangan yang lebih luas
mengatur administrasi pemerintahan seperti halnya menetap dan
mengangkat Kepala Daerah tingkat kabupaten.
Perubahan sistem pemerintahan
Indonesia diawali demonstrasi besar-besaran dilakukan para aktivis,
mahasiswa dan masyarakat. Demonstrasi pada masa ini tidak hanya di
Jakarta namun terjadi serentak hampir di seluruh wilayah Indonesia. Para
demonstran menuntut agar demokrasi di Indonesia dapat dijalankan sesuai
amanat Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Demonstrasi ini dikenal dengan demonstrasi Era Reformasi.
Demonstrasi era reformasi menuntut
agar demokrasi dijalankan sebagaimana diamanatkan Undang-undang Dasar
Negara Indonesia 1945. Demokrasi yang diharapkan adalah kebebasan yang
benar-benar memberi ruang dan menghormati hak-hak rakyat untuk
menentukan pilihannya secara demokrasi. Demonstrasi era reformasi
merupakan sejarah bangsa Indonesia sebagai demonstrasi berdarah
sekaligus berhasil menurunkan Presiden Soeharto sebelum masa jabatannya
berakhir. Presiden Republik Indoenesia, Soeharto diturunkan dan
membacakan surat pernyataan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998
di Istana Negara Jakarta.
Nama-nama Bupati dan Wakil Bupati Bima sejak masa Orde Baru hingga periode 2010 - 2015 yaitu:
- Sultan Abdul Kahir II
- Suharmaji
- H. Umar Haroen dua periode
- Halim Jafar
- Adi Haryanto
- Drs. H. Zainul Arifin (1999 – 2005)
- H. Ferry Zulkarnain, ST dan Drs H. Usman AK (2005 - 2010)
- H. Ferry Zulkarnain, ST dan Drs. H. Syafruddin H. M. Nur, M.Pd (2010 - 2015)
Karena keterbatasan
informasi dan referensi, Bupati Bima periode Suharmaji, H. Umar Haroen,
Halim Jafar dan Adi Haryanto belum dapat diuraikan seperti masa jabatan
sesudahnya. Namun sebagai gambaran umum bahwa Bupati Bima pertama putra
asli daerah Bima adalah Drs. Zainul Arifin. Sementara Bupati Bima
periode sebelumnya masih didrop dari pusat. Pada masa-masa ini peta
poltik Indonesia masih didominasi Golkar (Partai Golongan Karya).
Bupati Bima periode 1999 - 2005 (Drs. H. Zainul Arifin)
Pemilihan Bupati pada tahun 1999
termasuk dampak dari adanya perubahan sistem dan iklim demokrasi bangsa
Indonesia di tingkat nasional yang diawali demonstrasi era Reformasi.
Era pemilihan
Kepala Daerah periode 1999 - 2005 merupakan kenangan terakhir Gedung
DPRD Kab. Bima menyaksikan ajang bargain elit politik daerah tingkat II
Bima melakukan lobi politik. Pada masa ini sistem demokrasi sudah mulai
berjalan baik walaupun implementasi sistem demokrasi Dari Rakyat Oleh
Rakyat dan Untuk Rakyat belum seutuhnyan dilakukan.
Perubahan sistem demokrasi sudah mulai
dirasakan berubah. Perubahan tersebut yaitu ruang gerak Dwi Fungsi ABRI
sudah dibatasi untuk mencalonkan atau dicalonkan sebagai Kepala Daerah
seperti halnya pada Tingkat Kabupaten.
Pemilihan Bupati Bima pertama pada era
reformasi seorang Kepala Daerah masih dipilih oleh anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bima. Dan Drs. H. Zainul
Arifin berhasil menyakinkan para wakil rakyat daerah Bima bahwa ia mampu
membawa perubahan daerah Bima lebih meningkat lagi. Dengan terpilihnya
ini Zainul Arifin tercatat sebagai putera asli daerah Bima menjadi
Bupati Bima. Zainul Arifin sebelum menjadi Bupati Bima merupakan Pegawai
Negeri Sipil yang bertugas di Jakarta, Indonesia.
Salah seorang kontestan calon Bupati
Bima dikalahkan Drs. Zainul Arifin adalah Drs. M. Noor Latif. Namun
beberapa tahun kemudian Nur Latif akhirnya terpilih menjadi Walikota
Madia Bima pertama sejak dimekarkan dari Kabupaten Bima.
Kerja keras selama kepemimpinannya bersama lembaga legislatif membangun Dana Mbojo
diembannya dengan serius. Salah produk dari kepemimpinannya adalah
Jum’at Khusu yang merupakan ide briliantnya hingga sampai saat ini masih
berjalan. Ide yang digagas ini merupakan bukti perhatiannya pada
nilai-nilai islam, dan juga sebagai upaya merangsang masyarakat agar
tidak melakukan perjalanan pada saat shalat Jum,at. Kebijakan ini
diambil untuk menghormati masyarakat yang sedang melaksanakan ibadah
Shalat Jum'at agar tidak terganggu kekhusukannya.
Namun menjelang akhir masa jabatannya
lima tahun, Drs. H. Zainul Arifin mendapat cobaan yang sangat besar
sampai-sampai mendapat respon negatif dari masyarakat. Pandopo Bima yang
berada di seberang Jalan Rumah Sakit Umum Bima yang masih dalam
tanggung jawabnya sebagai orang nomor satu di kabupaten Bima terbakar
hangus hanya meninggalkan runtuhan dan puing bangunan. Akan tetapi
peristiwa ini bukan merupakan kesalahan H. Zainul semata. Sesungguhnya
dibalik peristiwa ini ada hikmah yang harus dipetik bahwa manusia tidak
jauh dari cobaan Tuhan pencipta alam semesta.
H. Ferry Zulkarnain, ST – Usman AK (periode 2005 – 2010)
Pemilihan Kepala
Daerah (Bupati) di Bumi Gora tahun 2000 merupakan kali pertamanya
kontestan menadahkan nasibnya di tangan Rakyat. Pasangan yang diusungkan
oleh Partai yang paling lama berkuasa dalam sejarah Partai Politik
Indonesia yaitu Partai Golongan Karya menghantarkan pasangan H. Ferry
Zulkarnain, ST dengan Usman Ak sebagai pemenangnya. Kemenangan pasangan
ini merupakan pasangan yang kali pertama pemilihan secara LUBER dalam
sejarah pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bima
Pasangan ini meraih kemenangan tidak
dengan mudah, karena pada awal kemunculannya sebagai kandidat calon
Bupati Bima banyak pihak yang meragukan kemampuannya untuk memimpin
daerah. Berbagai isu muncul ditunjukan kepada pasangan ini yang sengaja
dihembuskan untuk mengganjal langkah menduduki orang nomor satu di
kabupaten bima selama lama tahun. Namun keraguan masyarakat tersebut
dijawabnya dengan kerja keras dengan membangun berbagai sarana dan
prasarana masyarakat seperti yang sudah terlihat dan dirasakan oleh
masyarakat saat ini.
Pasangan Ferry Zulkarnain - Usman Ak dalam menjalankan amanah sebagai pelayan masyarakat Bima mengusung moto "Toho Mpa Ra Ndai Sura Dou Labo Dana".
Salah satu produk terbaik dari
beberapa produk lain hasil kerja keras pasangan Bupati Bima pilihan
rakyat Bima pertama secara demokrasi adalah mengubah arah jalan raya
lintas Doro Belo-Panda. Jalan yang banyak tanjakan dan turunan tajam ini
dibuka pada masa Bupati Bima, Drs. Zainul Arifin. Jalan kini sudah kini
sudah menjadi jalur utama masyarakat menuju Kota Bima sebelum alur
jalannya dialihkan telah memakan beberapa orang korban jiwa. Salah satu
kecelakaan tragis menewaskan beberapa orang yang sedang menumpang Dan
Truk Bak terbuka. Dalam kecelakaan terbaliknya truk pada tikungan tajam
menuju tanjakan ini merenggut nyawa setidaknya dua orang ditempat
kecelakaan.
Putera mahkota H. Abdul Kahir (alm)
mantan Raja Bima ini merupakan putera terbaik Kabupaten Bima dan
dianggap layak oleh masyarakat Bima untuk memimpin Kabupaten yang paling
timur di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kecintaan masyarakat terbukti,
pria kelahiran Jakarta ini unggul dari 6 kandidat lainnya. Tak pelak
pasangan incumbent Drs. H. Zainul Arifin yang saat itu berpasangan
dengan dr. Ibrahim didepaknya dan hanya mampu menempati urutan ke 2.
Nama-nama pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati pada pemilukada Bima periode 2005 – 2010 yaitu:
- H. Nazamudin, SE - Ir. H. Syafruddin, AM
- H. Muhtar, SE, MM - dr. Irfan
- H. Abdul Khair, SH, M.Si - Drs. Masykur HMS
- Ferry Zulkarnain, ST - Drs. H. Usman Ak
- Drs. H. Zainul Arifin dengan dr. Ibrahim
- H. Thamrin, MM, MBA - Dra. Evi Nafisah
H. Ferry Zulkarnain, ST dengan Drs. H. Syafrudin M. Nur, M.Pd. (periode 2010 - 2015)
Bupati, Ferry Zulkarnain - Wakil Bupati Bima, Syafruddin saat HUT RI tahun 2010 di lapangan sepakbola Teke Kecamatan Palibelo (Foto: Ronamasa.Com/Ahyar) |
Orang bijak
berkata kawan atau teman adalah orang yang tetap harus diwaspadai karena
dalam hidup dan kehidupan ini memang tak ada yang abadi. Karena kawan
kadang bisa menjadi lawan dan lawan akan jadi kawan. Tapi lawan jangan
dicari. Kalimat ini nyaris hampir sama dengan perjalanan perpolitikan di
Bumi Ngaha Aina Ngoho pada era reformasi ini.
Walaupun demikian hal itu tidak patut
dijadikan sebagai jembatan untuk saling membakar emosi sehingga
menimbulkan rasa benci yang mendalam satu sama lainnya. Yang terpenting
dilakukan adalah menjaga hati dan menghargai apa yang telah terjadi
karena itu merupakan kehendak dari-NYA untuk menguji seberapa sabarnya
kita dalam menjalani kehidupan ini. H. Ferry Zulkarnain, ST dan Drs. H.
Usman AK yang pada periode 2005-2010 sebagai pasangan Bupati dan Wakil
Bupati namun pada pemilu Kada Periode 2010 - 2015 menjadi pasangan yang
terpisah karena ada perbedaan pandangan politik.
Hasil Pilkada Bima periode 2010 - 2015
menunjukan bahwa tingkat kepercayaan mayoritas masyarakat terhadap
Bapak yang hanya dikarunia seorang putera hasil perkawinannya dengan
Indah Damayanti Puteri masih sangat besar sekali. Ini terbukti kali
keduanya H. Ferry Zulkarnain, ST yang berpasangan dengan Drs. H.
Syafruddin, M.Pd berhasil meraih suara terbanyak dari 3 (tiga) pasangan
calon lainnya. H. Ferry Zulkarnain, ST-Drs. H. Syafruddin, M.Pd diusung
10 (sepuluh) Partai yang tergabung dalam koalisi partai "FERSY RAKYAT"
pada PEMILU KADA Kab. Bima 7 Juni 2010 memperoleh kepercayaan masyarakat sekitar 60 % dari tiga pasangan calon lainnya.
Nama-nama pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bima periode 2010 - 2015 yaitu:
- H. Ferry Zulkarnain, ST dengan Drs. H. Syafruddin, M.Pd (FERSY RAKYAT)
- Drs. H. Suhaedin Abdullah, MM dengan Drs. Sukirman Azis, SH (IDAMAN)
- Drs. H. Zainul Arifin dengan Drs. H. Usman AK (ZAMAN)
- Drs H. Nazib dengan Arie Wiryawan Harun Al Rasyid, SE (NAZAR)
Dari delapan figur calon orang
nomor satu dan dua di kabupaten dalam lima tahun sejak tahun 2010 Drs.
H. Najib tercatat memiliki kekayaan tertinggi sebesar Rp.
13.224.000.000. Sementara cucu Raja Bima Sultan Muhammad Salahuddin,
Ferry Zulkarnain, ST berada diurutan kedua dengan total kekayaan
Rp.5.663.776.511. Sementara calon Bupati Bima terendah memiliki kekayaan
adalah Drs. Sukirman Azis, SH, Rp. 533.610.210. Data KPUD Bima
sebagimana dilansir Media Bima.
1 komentar:
Sejarah kabupaten bima ini menarik sekali....
Posting Komentar